Nina, adalah anak perempuan saya yang ketiga ini menangis ketika saya sama Nino "Anak laki-laki saya yang no 2" hendak pergi ke pangkas rambut, karena saya lihat rambutnya si aa "begitu saya memanggil Nino" sudah kelihatan panjang dan terkesan tampak kusut, ya sudahlah akhirnya saya ajak saya fikir daripada dirumah jadi rewel, pertama-tama yang kami datangin pangkas rambut yang paling dekat dengan tempat tinggal kami, disamping paling dekat juga harganya juga murah dibandingkan dengan pangkas rambut yang ada disekitaran kami tinggal, mungkin karena pangkas rambut ini hanya sambilan, usaha ia yang dia kerjakan disaat pulang kerja jam 5 sore setiap harinya. Namun sayang sesampainya ditempat pangkas rambut yang saya maksud ternyata tutup, pintu rumahnya juga tutup, sempat saya memperlahan lajur motor saya dengan harapan mungkin tukang pangkas rambutnya mendengarnya, namun suasana tetap sepi tidak ada suara tanda buka pintu sedikitpun pertanda penghuninya ada dirumah. Sepintas lalu saya kembali menarik gas motor saya sambil berfikir manalagi pangkas rambut yang akan kami datangi dan kira-kira tidak begitu antri, karena berhubung hari ini adalah hari minggu biasanya lumayan ramai penghuni perum yang sengaja menyempatkan untuk memotong rambutnya dihari libur seperti ini.
Beberapa saat berlalu ketika kami melewati seorang tukang odong "biasa kami menyebutnya dengan sebutan yang sudah familiar untuk sebuah sepeda rakitan dilengkapi dengan beberapa replika dari kuda, motor atau sejenis mobil-mobilan" biasa digerakkan dengan dikayuh ataupun cuma berbentuk gerobak dengan berbagai macam miniatur sebagai perlengkapan untuk anak-anak naik. Melihat ada odong-odong Nina kontan teriak "Ayah naik odon-odon!.." begitu celetukan dia dengan suaranya yang masih cadel, usianya saat ini baru dua tahunan, tapi saya jawab "entar dulu ya de!, entar kita pulang baru naek odong-odong, sekarang potong rambut aa dulu!.." begitu bujuk saya supaya Nina tidak nangis dan memaksa untuk turun dari motor buat naik odong-odong. Akhirnya Nina pun mau menuruti bujukan saya dan tidak memaksa naik odong-odong walaupun dengan suara masih merengek "nanti naik odon-odon" begitu rengek dia. "Ia sayang entar pulang potong rambut" jawab saya, enggak terasa kami pun sampai ditempat pangkas rambut yang dituju. Alhamdulillah kayaknya tidak begitu antri suasananya, hanya ada satu orang yang sedang dipotong rambutnya. Sayapun menurunkan aa dan Nina yang spontan saja dua-dua lari kedalam pangkas rambut, setelah nyetandarin motor saya juga segera menyusulnya kedalam, didalam kami menunggu orang yang dipangkas selesai di bangku panjang,didepan ruangan terdapat sebuah televisi mini yang sedang dinyalakan.
Tak lama kemudian orang tersebut selesai dipangkas rambutnya,saya pun mendudukan aa di kursi depan kaca pemangkas rambut. Usai memotong rambut kami pulang,di perjalanan tanpa sengaja kami melihat odong" yang sama ketika kami berangkat tadi, nina yang masih ingat ingin naik odong odong pun spontan teriak! "Ada odon-odon"karna sudah menjanjikan saya pun menaikannya odong" tersebut,cukup lama waktu naik odong"nya hingga aa lelah menunggu nina yang sedang naik odong odong, alhasil nina diturunkun lalu kami pulang.
Sampai dirumah,nino langsung mandi, sedangkan nina langsung menyalakan TV yang baru saja dimatikan oleh ibunya. Sayapun pergi kebelakang untuk tiduran dikasur , beberapa menit kemudian ketika saya,istri,aa,dan kakaknya sedang berkumpul dikamar belakang,nina datang "ayah" begitu teriaknya "coba de liat rambutnya"pinta ibunya ketika melihat. Poni rambut nina yang tidak rata,ninapun jalan mendekati ibunya.
"Adek potong rambut sendiri ya?koq nggak rata poninya?"Tanya ibunya "Iya."Jawab nina cepat,semua tertawa geli mendengarnya,ternyata nina memotong rambutnya sendiri dengan gunting yang terdapat di meja depan, shehingga poninya tidak rata
Tidak ada komentar:
Posting Komentar