Kamis, 19 Mei 2016

Kuberi Kado Terakhir Untukmu Sahabat

Kuberi Kado Terakhir Untukmu Sahabat

Namaku Nazwa Shopie Nur Salsabila
panggil aja aku Nazwa. Aku mempunyai
sahabat yang baik sekali namanya Alya.
Sudah 4 tahun aku bersahabat
dengannya. Di pagi hari yang cerah.
Aku segera siap-siap ke sekolah karena
hari ini hmm gak ada apa-apa sih tapi
aku ingin berangkat sekolah pagi-pagi.
Ku lihat tanggal hari ini. “Gak terasa
sekarang sudah tanggal 13 Maret.”
Kataku. Aku teringat bahwa tinggal 7
hari lagi sahabatku ulang tahun. Segera
aku turun ke bawah karena Bunda
memanggilku.
“Bunda ada apa sih?” tanyaku.
“Enggak. Kamu ngapain aja di kamar?
Bukannya cepat! Mau sekolah gak sih?”
kata Bundaku.
“Enggak Bun. Aku gak apa-apa kok di
kamar. Ya sudah aku sarapan makanan
Bunda tercintaku dulu.” kataku sembari
senyum. Bunda membalas senyumanku
dan segera ke dapur lagi. Setelah siap
aku pergi ke sekolah.
Di kelas. Biasanya Alya sudah datang?
Tapi ke mana dia sekarang?
“Assalamualaikum Kesyha,” Sapaku.
“Waalaikum salam Nazwa,” Jawabnya.
“Kes kamu udah lihat Alya belum?”
Tanyaku.
“Ampun deh kamu datangnya kepagian
sekarang baru jam 06:10 Alya
datangnya jam set 7. Makanya datang
jangan hampir masuk dong,” katanya.
“Iya Iya.” Kataku.
“Met pagi semua,” Sapa Angel.
“Selamat pagi juga Ngel,” Sapa yang
ada di kelas. Tiba-tiba Alya datang
dengan lesu.
“Hai Alya,” Sapaku riang.
“Hai juga Naz,” sapanya.
“Kamu sakit? kalau sakit kamu gak
usah sekolah dulu.” Kataku khawatir.
“Aku gak apa-apa cantik.” Katanya.


5 Hari ini Alya gak masuk. Guru guru
tak ada yang memberitahuku.
Tiba-tiba Kesyha datang dengan
terengah-engah. “Nazwa. Aku dengar.
Alya. Dirawat. Di. Rumah sakit.” Kata
Kesyha sambil terengah-engah. Aku
kaget bahkan sangat kaget. “Apa?! Dia
sakit apa Kes?” Tanyaku panik.
“Dia sakit jantung sampai sekarang.”
Katanya sambil menahan tangis.
“Se-Sekarang kenapa Kes? Ku mohon
jawab,” Kataku.
“Kalau kau mau nanti ku antarkan ke
rumah sakit Naz.” katanya. Aku hanya
diam kaku. Sungguh aku gak ingin
kehilangan sahabatku. Dari kecil aku
selalu ada bersamanya dalam suka
maupun duka. Tapi sekarang?
Setelah sampai di rumah sakit. Aku
menunggu di luar kamar pasien.
“Tante. Gimana keadaan Alya Tan!!”
Tanyaku terisak. “Sabar Nak.
Berdoalah.” Kata Bunda Alya. Tiba-Tiba
dokter datang.
“Maafkan kami Bu. Kami tidak bisa
menolong anak Ibu kecuali dengan
pendonoran jantung Bu kalau sampai
besok tidak ada yang mau
mendonorkan jantung kepada anak Ibu
mohon maaf. Kami tidak bisa
melakukan apa pun.” kata dokter itu.
Hari ini nekadku sudah bulat. Aku akan
mendonorkan jantungku kepadanya
sebelum itu. Aku ingin memberikan
sebuah surat kepadanya. Besok adalah
ulang tahun Alya aku ingin memberi
jantung ini padanya.

Keesokan harinya. Alya pun sadar.
“Bu. Di mana aku?” Tanya Alya
“Kamu di rumah sakit Nak. Ada
seseorang yang sangat baik padamu.
Selamat ulang tahun Nak,” Kata Ibu
Alya sambil menangis. “Ini. Ada
sepucuk surat dari orang yang sangat
baik hati padamu.” kata dokter. Alya
pun membuka surat itu.
“Untuk sahabatku tercinta, Alya.
Gimana kabarnya Al? Pasti sangat baik
kan? Maaf aku tidak menemuimu saat
hari yang spesial untukmu Al. Ku harap
kau jangan Nangis ya. Tersenyumlah
selalu Sahabatku Alya. Aku memberi
kado terakhirku untukmu Al.
Jantungku. Ku harap kau tak bersedih.
Ingat pesanku yaa tetap tersenyum
walau hari-harimu sekarang tanpaku ya
Al. Masih ada teman yang lain kok jaga
kado terakhirku ya. Rawat jantungku
yaa. Nanti kita pasti bertemu lagi kok.
Tenang aku di sini baik-baik saja kok
jaga dirimu yaa. Sampai jumpa
Sahabatku Alya. Salam, Sahabatmu
Nazwa.”
Alya menahan tangis. “Bu. Di mana
Nazwa? Aku mau ke sana.” Tanyanya.
Ibunya pun mengantarkan ke kuburan
Nazwa.
“Nazwa. Aku janji padamu Naz. Aku
akan selalu merawat jantungmu. Jaga
dirimu di sana yaa. Aku tidak akan
melupakanmu Naz.” Kata Alya dengan
sedih. Sekarang hidup Alya berubah
tetapi ia tidak akan melupakan
sahabatnya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar