Selasa, 24 Mei 2016

Semangat Puasa Mawar

Semangat Puasa Mawar

“Kak, apa itu puasa?” Mawar, adiknya
Melati yang masih berusia 5 tahun
bertanya. Karena ia sering melihat di
channel TV banyak terdapat iklan
tentang puasa. Mawar, balita yang lucu
sangat tertarik dengan hal yang belum
diketahuinya. Kalau ia belum tahu, ia
pasti bertanya kepada kakak satu-
satunya itu.

“Menahan, nafsu dan amarah Mawar,
artinya dari matahari terbit sampai
matahari terbenam kita tidak boleh
makan dan minum. Selain itu, kita juga
tak boleh marah, dan hal sebagainya
karena dapat mengurangi pahala kita,”
Melati tersenyum melihat adiknya yang
bertanya seperti itu. Namun, adiknya
masih “KEPO” tentang puasa. Mawar
terdiam terlihat berpikir sebentar.
Sepertinya, menyiapkan pertanyaan
baru yang akan ia tanyakan kepada
kakaknya itu.
“Kakak puasa?”
“Tentu saja,”
“Kapan?”
“Besok,”
“Mengapa besok?”
“Karena besok memasuki bulan
Ramadhan,”
“Sampai kapan?”
“Sampai akhir bulan Ramadhan,”
“Oh,”
Mawar menari-nari ria di kamarnya.
Seperti kupu-kupu yang kesenangan
mendapat nektar bunga. Lesung pipi
selalu nampak di wajahnya karena
memang hari ini Mawar bahagia. Entah
apa, semua tak tahu kecuali ia dan
Allah. Mawar menyalakan TV yang ada
di kamarnya, entah channel apa yang
dibukanya. Ada berita bahwa besok
mulai memasuki bulan Ramadhan.
“Sama seperti kata kakak, berarti bener dong besok puasa?” gumam Mawar sendiri.
“Apa boleh ya aku ikut puasa?” Mawar
berbicara sendiri berjam-jam lamanya.
“Hmm, nanti tanya aja deh,” Senyum
Mawar kembali terang setelah berpikir
seesuatu.
“Mawar ayo ke ruang makan, sudah
saatnya makan malam,”
Melati berteriak dari luar sembari berlari menuju ruang makan.
“Iya kakak,”
“Mama boleh aku puasa?”
Sontak satu keluarga sangat terkejut
dengan perkataan Mawar yang
mengagetkan dan tak disangka.
Padahal, biasanya anak seumur Mawar
tak mau puasa alasannya laper, haus,
dan lainnya.
“Ada apa, Mama, Papa,
Kakak, aku tidak boleh ya?” Raut wajah
Mawar berubah menjadi sedih.
“Kamu yakin bisa Mawar?”
“Aku yakin,” Mawar berkata dengan
sangat semangat menatap mama.
#Keesokaannya
“Adikku sayang, Mawar ayo bangun.
Kita kan mau sahur,” Melati
membangunkan adiknya seraya
menghidupkan lampu kamar Mawar.
Mawar yang masih terkantuk-kantuk
langsung bangkit. Ia mempunyai
banyak pertanyaan dengan Melati.
Namun, disengaja untuk dipendam
dahulu. Saat sahur, mereka sekeluarga
membaca niat puasa dan makan sahur.
Sedangkan, Mawar kurang makannya
karena sibuk bertanya.
“Apa itu sahur?”
“Mengapa kita harus sahur?”
“Kenapa sahur pagi?”
“Kenapa orang besar harus puasa?”
“Bulan Ramadhan itu apa?”
“Bla bla bla bla…”

Banyak sekali yang ditanyakan oleh
Mawar. Sehingga mama, papa, dan
kakak kesulitan untuk menjawab.
Akhirnya mereka bertiga memutuskan
untuk menjawab setelah salat subuh.
Karena sudah libur sekolah, Melati
bermain dengan teman-temannya di
luar. Sedangkan Mawar sibuk bertanya
kepada mama.
“Kamu tak lapar sayang?”
“Tidak Mama,” Mama tersenyum
melihat putri bungsunya begitu
semangat puasa. Entah karena apa,
Mawar sungguh sangat semangat dan
bahagia. Tak ada rasa lapar dan haus
yang menyerangnya.
Hari demi hari berlalu, sama
keadaannya semangat dan bahagia.
Namun, menjelang Syawal atau yang
disebut lebaran Idul Fitri, Mawar
menjadi lebih diam. Kini, seperti banyak beban yang menimpanya. Sehingga, Melati kakaknya Mawar sebenarnya agak heran. Baru tahun ini Mawar dewasa dan tahun ini pula Mawar sangat terpuruk. Saat itu, angin telah berhembus kencang, malam menjelang tiba. Mama, papa, Mawar, dan Melati buka puasa di ruang makan. Melati banyak mengobrol dengan papa, sedangkan Mawar memandang lurus ke depan, dan mama memperhatikan Mawar. Allahuakbar… Allahuakbar Allahuakbar. Hari kemenangan telah tiba. Melati sedang bahagia karena sanak saudara berkunjung ke mari.

Bersulahtuhrahmi tersenyum bermain.
Berbeda dengan Mawar, pucat
wajahnya.
“Mawar wajahnya pucat, ada apa
sayang kamu sakit?” Vivi sepupu Mawar dan Melati yang perhatian bertanya. Mawar hanya menggelengkan kepala.
Matanya berkunang-kunang. Kepalanya terasa pusing.


Kini, hanya tersisa makam dan taburan
bunga. Mawar divonis mengidap
penyakit leukimia namun tak bisa
diselamatkan lagi. Mungkin itu
sebabnya wajahnya pucat dan selama
ini ia diam. Padahal, Mawar balita
berumur 5 tahun sangat
bersemangat. Melati, kakak Mawar dan
orang banyak salut dan kasihan melihat Mawar. Bukan karena leukimia atau apa, namun salut karena semangatnya berpuasa dan sedih tak bisa melanjutkan perjalanan hidupnya yang masih sangat panjang.

The End)))))))((((((



Tidak ada komentar:

Posting Komentar